Self Theory (Teori Diri) - Didiet X-Fuera

Self Theory (Teori Diri)


1. Teori Pengendalian Diri (Self Control)
Di dalam ensiklopedi psikologi, self control dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menangguhkan kesenangan alamiah langsung dan  suatu keputusan dalam mendapatkan tujuan yang biasanya dinilai secara sosial. Sedangkan, di dalam situs Wikipedia, self control merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan emosi seseorang, perilaku, dan keinginan untuk memperoleh beberapa penghargaan, atau untuk menghindari beberapa hukuman. Di dalam psikologi juga dapat disebut self regulation (peraturan diri). Sehingga, self control dapat dikatakan sebagai usaha individu untuk mencapai suatu tujuan dengan melakukannya secara perorangan/individu, melalui cara positif dan mengabaikan yang negatif.

Menurut Drever, self control merupakan individu yang mengendalikan atau mengontrol perasaan, gerakan hati (hati nurani), atau perbuatan diri sendiri. Sedangkan, menurut Goleman mengartikan self control sebagai kemampuan mengendalikan diri atau pola kepribadian berdasarkan usia. Kontrol diri sangatlah penting dalam membentuk perilaku individu untuk mencapai sebuah tujuan dan menghindari impuls dan/atau emosi yang dapat terlihat sebagai perilaku negatif.

Contoh, dewasa ini banyak remaja yang memiliki emosi yang tidak stabil, sehingga banyak kasus pembunuhan yang melibatkan remaja bahkan anak di bawah umur. Hal ini diakibatkan karena mereka tidak dapat mengontrol dirinya sendiri karena emosi yang meledak-ledak. Namun, tidak semua remaja tidak dapat mengontrolnya, ada juga sebagian remaja yang dapat mengontrol diri dan emosinya karena telah mencapai kematangan emosi sehingga mampu mengendalikan perilaku yang dilakukannya.

2. Teori Manajemen Diri Sendiri (Self-Management)
Menurut istilah, self management merupakan sikap dimana individu menempatkan dan menjadikan dirinya di sebuah posisi atau tempat agar terbentuk sebuah prinsip.
Watson & Tharp (1981:11) menjelaskan bahwa Self-management yang sukses terdiri atas unsur penting yaitu:

a.    Self-knowledge (pengetahuan diri)
Pengetahuan diri adalah unsur penting dari Self-management, karena Pengetahuan tentang diri (Self-knowledge) adalah dasar dari program ini. Pengetahuan diri mendasari penentuan perilaku yang akan diubah, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, dan cara yang efektif untuk mengubahnya. Selain itu, individu memerplukan pengetahuan tentang potensi diri dan lingkungan yang dibutuhkan dalam pengubahan perilaku. Perilaku ini menurut Watson & Tharp (1983) meliputi perbuatan, pikiran dan perasaan.

Untuk memperoleh pengetahuan tentang perilaku target yang akan diubah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode observasi dan perekaman. Untuk perilaku diri sendiri, observasi dan perekaman dapat dilakukan dengan mencatat perilaku yang berasal dari pantuan diri sendiri melalui proses mengingat catatan buku harian dan meminta pendapat orang lain tentang perilaku kita. Data yang diperoleh kemudian dipahami sehingga diperoleh gambaran lengkap tentang perilaku target yang perlu diubah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

b.    Planning (Perencanaan)
Unsur kedua Self-management adalah perencanaan dalam program modifikasi perilaku diri sendiri. Perencanaan pengubahan perilaku diri sendiri harus didasari komitmen yang kuat untuk berubah, yaitu keinginan berubah menjadi lebih baik. Individu akan melakukan rencana untuk mengubah perilaku setelah mendapat informasi tentang diri dan lingkungannya. Perencanaan dilakukan agar tujuan pengubahan perilaku dapat lebih mudah terscapai.

c.    Information Gathering (penggabungan informasi)
Penggabungan informasi dilakukan untuk membantu proses dalam mengubah perilaku dengan menjadikannya sebagai data pendukung. Macam-macam informasi yang diperlukan meliputi informasi tentang jenis, faktor yang mempengaruhi, dan cara yang efektif merubah perilaku. Informasi tersebut digabungkan (dikumpulkan) agar dapat menghasilkan suatu petunjuk yang jelas dalam mengubah perilaku.

d.  Modification of Plan (modifikasi perencanaan)
Modifikasi perencanaan haruslah didasari komitmen yang kuat, yaitu komitmen untuk terus melakukan pengubahan untuk mendapatkan perilaku yang lebih baik. Pada unsur ini membahas tentang tahap-tahap modifikasi perencanaan dengan melakukan tahap evaluasi.

3. Locus of Control
Ada beberapa pengertian tentang Locus of Control menurut para ahli. Menurut Robbin (1998), Locus of control mengandung arti seberapa jauh individu yakin bahwa mereka menguasai nasib mereka sendiri. Rotter (1996) menyatakan bahwa locus of control sebagai tindakan dimana individu menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya dengan tindakan atau kekuatan di luar kendalinya.

Locus of control merupakan suatu konsep yang menunju pada keyakinan individu mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kemudian, dapat menggambarkan seberapa jauh seseorang memandang hubungan antara perbuatan yang dilakukan (action) dengan akibat/hasil (outcome). Dan juga, Locus of control berhubungan dengan sikap kerja dan citra diri seseorang.
Rotter (1996) membagi Locus of Control dalam 2 jenis, yaitu:
1. Locus of Control Internal
  • Mereka menganggap bahwa keterampilan, kemampuan, serta usaha mereka akan lebih menentukan apa yang akan mereka peroleh dalam kehidupan mereka.
  • Mereka merasa bertanggungjawab atas kejadian-kejadian tertentu.

2. Locus of Control External

  • Selalu menganggap bahwa kehidupan mereka tergantung dari hal-hal yang berasal dari luar diri mereka, seperti nasib, keberuntungan, takdir, atau orang yang berkuasa.
  • Mereka sering menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaany dirinya, atau kekuatan-kekuatan lain diluar kekuasaannya.


Get notifications from this blog