Resign In This Economy?
Sudah seminggu ini setiap bangun pagi, pikiran pertama yang muncul di kepala saya adalah keinginan untuk resign. Bukan karena ada konflik besar, tapi murni karena jenuh dengan tekanan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Target yang terus mengejar dan tumpukan tugas di meja rasanya sudah mulai menggerus kesehatan mental. Ada keinginan kuat untuk berhenti sejenak, menutup laptop, dan benar-benar menghilang dari rutinitas kantor demi mencari ketenangan. Namun, begitu saya melihat anak yang sedang sarapan atau istri yang sedang sibuk mengurus rumah, niat itu langsung saya tekan dalam-dalam karena realita hidup tidak sesederhana keinginan pribadi.
Sebagai seorang suami dan ayah, saya punya kalkulator otomatis di kepala yang langsung bekerja saat ide resign itu muncul. Saya mulai menghitung harga susu, biaya sekolah, hingga cicilan bulanan yang semuanya sangat bergantung pada slip gaji setiap tanggal satu. Di tengah kondisi ekonomi yang serba mahal dan tidak pasti seperti sekarang, membiarkan posisi pekerjaan kosong tanpa ada pengganti yang jelas terasa seperti tindakan yang sangat berisiko. Ego untuk mencari kebahagiaan diri sendiri tiba-tiba terasa sangat kecil dibandingkan dengan tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi tanpa ada yang perlu dikorbankan.
Tanggung jawab saya pun tidak berhenti di sana, karena saya juga seorang anak yang masih memiliki orang tua. Di usia mereka yang sudah lanjut, saya adalah salah satu tumpuan jika sewaktu-waktu mereka membutuhkan biaya kesehatan atau keperluan mendadak lainnya. Membayangkan harus memberi tahu mereka bahwa saya menganggur hanya karena merasa "jenuh" terasa sangat berat. Saya tidak ingin menambah beban pikiran mereka dengan ketidakpastian finansial saya, terutama saat banyak berita tentang susahnya mencari lapangan kerja baru di luar sana.
Pada akhirnya, pikiran untuk resign itu tetap hanya akan menjadi gumaman di dalam hati. Saya sadar bahwa di ekonomi yang sedang sulit ini, bertahan di tengah tekanan pekerjaan adalah bentuk perjuangan untuk orang-orang yang saya sayangi. Rasa jenuh memang nyata dan sangat melelahkan, tapi melihat dapur tetap mengepul dan orang tua tetap tenang jauh lebih penting. Strategi saya sekarang adalah belajar mengelola stres dan mencari celah untuk beristirahat tanpa harus melepaskan tanggung jawab. Bertahan bukan berarti kalah oleh keadaan, melainkan bukti kedewasaan dalam menempatkan kebutuhan keluarga di atas kelelahan mental pribadi.
Posting Komentar untuk "Resign In This Economy?"