[Review Video YouTube] Cara Memulihkan Fungsi Otak Akibat Brainrot by Akbar Abi
Pernahkah Anda merasakannya? Anda tahu persis apa yang harus dikerjakan, tetapi otak rasanya sulit diajak bekerja sama. Sulit fokus, konsentrasi buyar, dan tanpa sadar waktu terbuang begitu saja. Lagi macet sedikit, langsung scrolling. Sedang nonton TV, tangan ikut scrolling. Niatnya buka ponsel untuk hal penting, tahu-tahu sudah satu jam di TikTok dan lupa tujuan awal. Jika perasaan ini terdengar akrab, Anda tidak sendirian.
Kondisi ini sering disebut dengan istilah internet "Brain Rot" atau "Pembusukan Otak". Namun, ini bukan sekadar lelucon. Ini adalah kondisi nyata di mana fungsi otak terutama kemampuan berpikir, memori, dan konsentrasi menurun akibat paparan berlebihan terhadap konten pendek dan receh. Fenomena ini sangat relevan bagi Generasi Z dan Alpha, yang tumbuh di era algoritma media sosial yang dirancang cerdik untuk menciptakan kecanduan.
Untuk memahami mengapa kita bisa terjebak dalam siklus ini, kita perlu melihat lebih dalam. Jadi, mari kita bedah bagaimana media sosial secara efektif 'membajak' empat mekanisme alami yang sudah ada di dalam otak kita.
1. Sistem Hadiah Dibajak oleh Kesenangan Instan
Otak kita memiliki reward system atau sistem hadiah alami. Sistem ini melepaskan dopamin zat kimia yang membuat kita merasa senang dan termotivasi saat kita melakukan aktivitas bermanfaat seperti olahraga, belajar hal baru, atau mengobrol dengan teman. Ini adalah cara otak mendorong kita mengulangi perilaku yang baik untuk kelangsungan hidup.
Namun, media sosial seperti TikTok dan Instagram membajak sistem ini dengan memberikan dopamin melalui cara yang jauh lebih mudah. Cukup dengan menggeser jari, kita mendapat kesenangan instan tanpa perlu usaha. Ibaratnya, otak kita seolah berkata, "Eh, ternyata ada cara yang lebih gampang dan cepat ya buat dapat kesenangan tanpa harus capek-capek belajar?" Akibatnya, sistem motivasi alami kita terdisrupsi, membuat kita malas melakukan hal penting yang butuh usaha lebih besar. Ini adalah 'peretasan' biologis yang paling efisien: otak kita, yang dirancang untuk kelangsungan hidup, secara keliru meyakini bahwa kesenangan termudah adalah yang paling berharga.
2. Pelarian Sesaat yang Menjadi Lingkaran Setan
Setiap orang memiliki coping mechanism, yaitu cara alami otak untuk mengatasi stres atau emosi negatif. Mekanisme yang sehat seperti olahraga, meditasi, jurnaling, curhat dengan teman, atau mencari solusi membantu kita memproses emosi. Sebaliknya, scrolling tanpa henti adalah mekanisme pelarian yang tidak sehat.
Pelarian instan ini justru menciptakan lingkaran setan: Anda merasa stres, lalu Anda scrolling untuk merasa lebih baik. Kesenangan sesaat datang, tetapi akar masalahnya tetap ada. Setelah selesai, Anda justru merasa lebih stres karena sadar telah membuang-buang waktu. Jika diulang terus-menerus, otak akan membentuk kebiasaan di mana setiap kali cemas, pelarian pertama Anda adalah media sosial.
...karena apa yang dilakukan itu enggak mengolah emosi yang ada di diri kita tapi hanya menekan emosi menutup emosi untuk sementara waktu tidak menyelesaikan akar masalahnya.
3. Otot Berpikir Kritis Anda Melemah
Otak kita memiliki dua sistem berpikir utama: sistem cepat yang bekerja secara instan dan intuitif, serta sistem lambat yang digunakan untuk berpikir mendalam dan kritis. Konsumsi konten cepat secara terus-menerus video singkat, meme, hiburan receh hanya melatih sistem cepat. Akibatnya, sistem lambat yang krusial untuk fokus, memproses informasi kompleks, dan bernalar menjadi lemah karena jarang digunakan.
Ini bisa dianalogikan seperti otot: jika tidak dilatih, maka akan melemah. Inilah mengapa kita sering merasa tidak tahan atau gelisah saat mencoba melakukan tugas yang membutuhkan fokus lebih lama, seperti membaca buku atau mempelajari materi baru. Pada dasarnya, kita secara tidak sadar melatih diri kita sendiri untuk kehilangan kesabaran dalam berpikir.
4. Perbandingan Sosial yang Tidak Seimbang
Menurut Social Comparison Theory dari Leon Festinger, manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dulu, perbandingan ini terjadi dalam lingkup kecil dan setara 5 sampai 10 orang terdekat seperti teman sekelas atau rekan kerja dan sering kali bisa menjadi motivasi positif.
Di era media sosial, perbandingan ini menjadi tidak seimbang. Kita membandingkan "behind the scene" kita yang penuh kekurangan dengan ribuan, bahkan jutaan, "highlight reel" orang lain yang telah dikurasi dengan cermat. Fenomena ini menciptakan standar yang tidak realistis (seperti "standar TikTok") dan bias, yang pada akhirnya dapat merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental kita.
Setelah memahami semua dampak negatif ini, pertanyaan yang muncul adalah "Apakah kerusakan ini permanen?". Jawabannya adalah TIDAK.
Otak kita memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplasticity. Ini adalah kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, dan membentuk ulang jalur-jalur sarafnya berdasarkan kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten. Kabar baiknya, kemampuan inilah yang memungkinkan kita untuk 'memprogram ulang' sistem hadiah, membangun mekanisme koping yang lebih sehat, melatih kembali otot berpikir kritis, dan menata ulang cara kita memandang perbandingan sosial.
Kekuatan neuroplasticity ini adalah kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, kita bisa membentuk ulang otak kita untuk menjadi lebih fokus dan produktif. Kabar buruknya, semakin sering kita mengulangi kebiasaan buruk, semakin kuat pula jalur saraf untuk kebiasaan tersebut, dan semakin sulit untuk diubah.
Berbekal pemahaman tentang neuroplasticity, kita bisa mulai mengambil langkah-langkah praktis untuk memulihkan fungsi otak kita.
1. Batasi Screen Time dan Latih Deep Work
Langkah paling mendasar adalah membatasi penggunaan media sosial secara sadar. Alih-alih mengecek ponsel setiap menit, aturlah blok waktu spesifik untuk menggunakannya. Selain itu, latih kemampuan fokus dengan melakukan deep work: mengerjakan satu tugas tanpa gangguan dalam blok waktu tertentu. Teknik seperti Pomodoro (25 menit kerja, 5 menit istirahat) bisa sangat membantu melatih kembali "otot" konsentrasi Anda.
2. Baca Buku untuk Mengasah Pikiran
Membaca buku adalah salah satu cara terbaik untuk melatih "sistem berpikir lambat" otak Anda. Aktivitas ini membiasakan otak untuk bertahan dalam satu kegiatan serta memproses informasi secara perlahan dan mendalam. Ini adalah latihan yang secara langsung melawan efek negatif dari konsumsi konten serba cepat dan dangkal.
3. Olahraga: 'Pupuk' Terbaik untuk Otak
Olahraga adalah aktivitas yang sering diremehkan, padahal manfaatnya bagi otak sangat luar biasa. Saat berolahraga, tubuh kita memproduksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), sebuah senyawa protein yang bisa diibaratkan sebagai "pupuk" bagi otak. BDNF menyuburkan koneksi antar neuron, membantu kita belajar lebih cepat dan fokus lebih lama. Lebih hebat lagi, olahraga menciptakan lingkaran manfaat: aktivitas fisik menghasilkan melatonin (hormon tidur) yang meningkatkan kualitas tidur. Tidur yang berkualitas kemudian meningkatkan kadar BDNF dan menstabilkan emosi.
Brain rot bukanlah sekadar istilah internet, melainkan kondisi nyata yang dipicu oleh kebiasaan sepele seperti scrolling tanpa henti. Kita telah melihat bagaimana kebiasaan ini membajak mekanisme alami otak: mulai dari sistem hadiah yang kecanduan dopamin instan, coping mechanism yang berubah menjadi pelarian sesaat, melemahnya sistem berpikir lambat, hingga perbandingan sosial yang tidak sehat. Namun, kabar baiknya adalah otak kita memiliki kekuatan luar biasa untuk pulih berkat neuroplasticity. Pilihan ada di tangan kita.
Setelah memahami cara kerja otak Anda, kebiasaan kecil apa yang akan Anda mulai hari ini untuk merebut kembali fokus dan kendali atas hidup Anda?
Posting Komentar untuk "[Review Video YouTube] Cara Memulihkan Fungsi Otak Akibat Brainrot by Akbar Abi"